Menteri Mu’ti: Ramadan Momentum Memperkuat Ukhuwah Wathaniyah dan Spiritualitas Bangsa
Memasuki pekan pertama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) sekaligus meningkatkan kualitas spiritual pribadi.
Hal tersebut disampaikan Menteri Mu’ti saat memberikan ceramah tarawih di Masjid Al Falah, Senin (23/2). Dalam tausiyahnya di hadapan jemaah, ia menekankan bahwa Ramadan adalah bulan penuh kemuliaan (fadilah) yang harus diisi dengan amalan terbaik.
“Ramadan adalah bulan yang di dalamnya terdapat banyak sekali kemuliaan. Kemuliaan itu akan menjadi sempurna apabila kita isi dengan berbagai amalan dan ibadah sesuai dengan syariat. Suasana puasa memberikan dorongan spiritual dan kekuatan mental untuk mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan hidup,” ujarnya.
Ramadan dan Kesalehan Komunal
Dalam ceramahnya, Menteri Mu’ti juga mengulas fenomena communal piety atau kesalehan komunal. Ia menjelaskan bahwa kualitas ibadah seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya—baik keluarga, tempat kerja, maupun komunitas sosial.
Menurutnya, Ramadan menghadirkan atmosfer kolektif yang mendorong umat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Tradisi salat berjamaah, tadarus, hingga kegiatan berbagi menjadi ruang pembentukan karakter sosial yang lebih empatik dan peduli.
“Lingkungan yang baik akan memperkuat semangat beribadah. Karena itu, Ramadan menjadi momentum membangun budaya religius yang tidak hanya individual, tetapi juga sosial,” jelasnya.
Ramadan sebagai Syahrul Qur’an
Mengangkat tema Ramadan sebagai Syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an), Menteri Mu’ti merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 185. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan pedoman hidup yang menjadi pembeda antara kebenaran (haq) dan kebatilan (batil).
Ia juga menyinggung peristiwa Nuzulul Qur’an yang diperingati setiap 17 Ramadan sebagai tonggak penting diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Tradisi tadarus yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia, lanjutnya, terinspirasi dari kebiasaan Rasulullah SAW yang bertadarus bersama Malaikat Jibril.
Menteri Mu’ti mengingatkan agar umat Islam tidak hanya mengejar kuantitas bacaan Al-Qur’an, tetapi juga kualitas penghayatan.
“Kita perlu memperbanyak membaca Al-Qur’an, tetapi yang lebih penting adalah membacanya dengan tartil, perlahan, penuh pemahaman. Dari situlah hidayah hadir dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Ramadan dan Ukhuwah Bangsa
Lebih jauh, ia menyoroti Ramadan sebagai Syahrul Ukhuwah atau bulan persaudaraan. Ia menilai tradisi buka puasa bersama di Indonesia menjadi cerminan harmoni sosial yang khas dan inklusif.
Menurutnya, buka bersama tidak hanya dihadiri oleh umat Islam yang menjalankan puasa, tetapi juga sering melibatkan masyarakat lintas agama dan latar belakang. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Ramadan turut dirasakan sebagai rahmat bagi seluruh masyarakat.
“Buka bersama itu menunjukkan betapa rahmat dari pengamalan ibadah puasa dirayakan oleh semua kalangan masyarakat, apa pun agamanya. Nabi menyebutkan orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: bahagia saat berbuka dan bahagia ketika bertemu Allah SWT,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kemuliaan Ramadan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT harus diiringi dengan amal saleh dan perubahan perilaku nyata. Ibadah yang dijalankan selama Ramadan, menurutnya, harus berdampak pada peningkatan integritas, kepedulian sosial, serta semangat persatuan.
Seruan Perkuat Persatuan
Mengakhiri ceramahnya, Menteri Mu’ti mengajak seluruh jemaah untuk memaksimalkan ibadah, memperbanyak sedekah, serta menjadikan Ramadan sebagai ruang refleksi kebangsaan.
“Kita bangun kerukunan, persatuan, khususnya ukhuwah Islamiyah dan juga persatuan bangsa atau ukhuwah wathaniyah,” tegasnya.
Melalui pesan tersebut, Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual tahunan, tetapi juga sebagai momentum strategis memperkuat solidaritas sosial dan persatuan nasional di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Bupati Bandung: Dana BOSP Jadi Solusi Gaji 4.360 PPPK PW
Bandung – Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Paruh Waktu (PPPK PW) guru dan tenaga kependidikan (GTK) di Kabupaten Bandung kini mendapat kepastian gaji melalui Dana Bantua
Indonesia Salip Korsel dalam Minat Baca, Gramedia Semangat Buka Toko Buku Lagi
Tasikmalaya – Di tengah kehidupan yang semakin terdigitalisasi dengan perangkat elektronik, internet, dan media sosial, masyarakat Indonesia ternyata masih menunju
Dilarang Ayah Kuliah, Rif'an Bisa Lulus UGM dan Lanjut S2-S3 dengan LPDP
Tasikmalaya – Ahmad Rif’an Khoirul Lisan, pria asal Pleret Bantul, Yogyakarta, pernah menghadapi penolakan dari ayahnya sendiri ketika memutuskan untuk kulia
Katanya Paling Medsos, Siapa Sangka Gen Z Punya Minat Baca Tinggi
Tasikmalaya – Di tengah stereotip bahwa Generasi Z sangat lekat dengan media sosial dan budaya scroll, data terbaru justru menunjukkan gambaran berbeda. Survei Jak
Sosok Nathania, Teman Tuli yang Dirikan Penerbit dan Toko Buku Anak Ramah Disabilitas
Tasikmalaya – Seorang entrepreneur muda bernama Nathania Tifara berhasil mendirikan penerbitan buku anak yang ramah difabel. Perjalanan hidupnya tidak mudah. Ia ke
Kasus Kekerasan di Sekolah Meningkat, Lingkungan Pendidikan Dinilai Belum Sepenuhnya Aman
Tasikmalaya, meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan di Indonesia kembali menjadi perhatian serius. Laporan terbaru dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menc
Gandeng Yayasan Benih Baik, KFC Salurkan Donasi Rp415 Juta untuk Renovasi SDN Banjarwangi
Tasikmalaya, KFC Indonesia menyalurkan bantuan dana sebesar Rp415 juta untuk mendukung renovasi ruang kelas di SDN Banjarwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Program ini dilakukan
Ratusan Guru Program Sekolah Rakyat Mengundurkan Diri
Tasikmalaya, Program Sekolah Rakyat mulai menempatkan ratusan tenaga pengajar di berbagai daerah setelah proses seleksi tahap pertama selesai dilaksanakan. Berdasarkan data dari Kemente
Siswa Makin Sering Bermain HP di Sekolah, Studi: Konsentrasi Menurun
Jakarta – Di era digital saat ini, ponsel pintar atau smartphone seolah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi para pelajar. Studi terbaru mengungkapkan
Zonasi & Kurikulum Berubah Lagi? Orang Tua Resah, Siswa Jadi Korban Sistem
Jakarta, 2026 — Polemik dunia pendidikan kembali memanas setelah kebijakan terbaru dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia memicu perdebat


