Tasikmalaya – Di tengah stereotip bahwa Generasi Z sangat lekat dengan media sosial dan budaya scroll, data terbaru justru menunjukkan gambaran berbeda. Survei Jakpat mencatat Gen Z memiliki tingkat minat membaca sebesar 26 persen, lebih tinggi dibanding milenial (20 persen) dan Gen X (18 persen). Temuan ini kontras dengan kekhawatiran publik tentang menurunnya daya fokus akibat paparan konten singkat.
Generasi yang tumbuh bersama notifikasi dan algoritma media sosial ternyata memiliki ketertarikan membaca paling tinggi di antara kelompok usia lainnya. Survei Snapcart pada Oktober 2024 menambahkan, 88 persen responden Gen Z memiliki minat membaca, dan 42 persen mengaku membaca setiap hari. Sementara itu, Indeks Tingkat Gemar Membaca (TGM) periode 2020–2024 naik 4,17 persen, dari 55,74 pada 2020 menjadi 72,44 pada 2024, menunjukkan bahwa kebiasaan membaca belum sepenuhnya tergeser oleh budaya digital.
Namun, di tengah tren positif minat baca, muncul persoalan rentang perhatian yang semakin pendek. Penelitian Dr. Gloria Mark dari Universitas California pada 2004 menunjukkan bahwa rata-rata rentang perhatian seseorang di depan layar komputer hanya sekitar 2,5 menit sebelum terdistraksi. Ia menyebutkan bahwa tren ini terus menyusut hingga mendekati kurang dari satu menit, sehingga gangguan menjadi pola yang semakin umum. Informasi yang hadir dalam potongan 15–30 detik membentuk kebiasaan menerima rangsangan instan, membuat membaca buku menuntut fokus, kesabaran, dan durasi lebih lama.
Paradoks ini menjadi perhatian Cania Cita dan Abigail Limuria. Di tengah arus distraksi digital, keduanya melihat bahwa Gen Z tidak sepenuhnya kehilangan minat baca, melainkan sedang mencari keseimbangan. “Orang sebenarnya masih mau membaca. Namun kita hidup di lingkungan yang terus menarik perhatian ke arah lain. Buku akhirnya kalah bukan karena tidak relevan, tapi karena distraksinya terlalu kuat,” ujar Cania saat peluncuran Malaka Books di Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026).
Bagi Abigail, tingginya minat baca Gen Z menunjukkan kebutuhan pemahaman yang lebih mendalam, bukan sekadar konsumsi informasi cepat. “Hal yang ingin kami bangun bukan cuma orang beli buku, tapi orang selesai membaca dan memikirkannya. Ada perbedaan besar antara tahu sesuatu dan benar-benar memahami sesuatu,” katanya.
Menurut Cania, kebiasaan menerima informasi secara terfragmentasi berisiko membuat pemahaman menjadi dangkal. Ia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung Gen Z untuk membaca dengan fokus agar literasi tidak hanya sekadar kuantitas, tetapi juga kualitas pemahaman.


